Alonesia: Kementerian Ekraf dan IOTA Kolaborasi Kembangkan Platform Digital Anak Berbasis Budaya Lokal

Kementerian Ekraf dan IOTA Kolaborasi Kembangkan Platform Digital Anak Berbasis Budaya Lokal

Nusa Tara

2/5/20263 min read

ALONESIA.COM - Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) membuka peluang kolaborasi dengan PT IOTA Kreatif Media dalam pengembangan platform digital anak yang mengangkat nilai-nilai budaya lokal.

Pembahasan tersebut mengemuka dalam audiensi antara Wakil Menteri Ekonomi Kreatif/Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Irene Umar, dan jajaran IOTA Kreatif Media di Autograph Tower, Jakarta, Rabu (4/2).

Pertemuan itu menyoroti sejumlah agenda strategis, mulai dari penguatan kekayaan intelektual (intellectual property/IP) lokal, pembangunan platform digital ramah anak, hingga tata kelola keamanan konten sebagai fondasi ekosistem ekonomi kreatif digital yang berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, Irene menekankan bahwa pengembangan IP lokal perlu dirancang dengan arah yang jelas sejak tahap awal.

Ia mengingatkan bahwa keberhasilan sebuah IP tidak hanya bergantung pada ide kreatif, tetapi juga pada kesiapan model bisnis yang menopangnya.

Menurutnya, aspek monetisasi harus dipikirkan secara matang agar pengembangan IP tidak berhenti di tengah jalan.

Ia menilai, kolaborasi dengan IP yang sudah lebih dulu dikenal dapat menjadi langkah awal yang efektif, sembari membangun ruang yang kokoh bagi lahirnya karakter dan cerita baru berbasis lokal.

“Keberlanjutan menjadi kunci. Monetisasi perlu disiapkan dari awal supaya IP yang dibangun bisa terus tumbuh. Penguatan bisa dilakukan bertahap, termasuk melalui kolaborasi strategis,” ujarnya.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif.

Selain aspek bisnis, Irene juga menyoroti pentingnya kualitas dan tata kelola konten dalam platform digital untuk anak.

Ia mengingatkan bahwa pengembangan platform tidak semestinya hanya mengejar popularitas sesaat.

Konten anak, lanjutnya, harus diproduksi secara hati-hati, melalui proses kurasi yang ketat dan melibatkan tenaga ahli, termasuk budayawan.

Hal ini penting agar pesan yang disampaikan tetap relevan, akurat, serta bertanggung jawab secara sosial dan kultural.

Audiensi tersebut turut membahas dua inisiatif platform, yakni Nusa Tara dan IOTA Kids.

Keduanya dirancang sebagai media pembelajaran dan hiburan edukatif (edutainment) untuk anak usia PAUD hingga sekolah dasar.

Platform ini diharapkan dapat mendukung Gerakan Literasi Sekolah sekaligus selaras dengan implementasi Kurikulum Merdeka.

Chief Operating Officer PT IOTA Kreatif Media, Ratna Yoes, menjelaskan bahwa Nusa Tara dikembangkan sebagai platform interaktif yang mengedepankan cerita dan karakter yang dekat dengan keseharian anak Indonesia.

Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat IP lokal sejak usia dini.

Ratna menyebutkan, pihaknya berharap mendapatkan dukungan dari Kementerian Ekraf, terutama dalam hal fasilitasi jejaring, peningkatan eksposur, hingga pelibatan dalam berbagai program dan agenda ekonomi kreatif.

Dukungan tersebut dinilai penting agar IP anak berbasis lokal memiliki peluang berkembang dan bersaing di pasar yang lebih luas.

Konten dalam Nusa Tara, kata Ratna, dirancang dengan memadukan cerita rakyat Nusantara dan karakter orisinal yang dikemas dalam fitur interaktif.

Selain sebagai sarana edukasi, platform ini juga diarahkan untuk menghasilkan data terukur.

Data tersebut nantinya dapat dimanfaatkan sebagai dasar penguatan model bisnis IP sekaligus menjadi referensi bagi pengembangan industri kreatif anak di masa mendatang.

Sementara itu, Direktur Gim Kementerian Ekonomi Kreatif, Luat Sihombing, menilai inisiatif ini perlu ditindaklanjuti dengan perencanaan teknis yang rinci dan sistematis.

Ia menegaskan pentingnya segmentasi pengguna yang jelas serta tahapan pengembangan yang terukur agar implementasi berjalan efektif.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif.

Dok. Biro Komunikasi Kementerian Ekonomi Kreatif/ Badan Ekonomi Kreatif.

“Perencanaan teknis harus disusun dengan matang, termasuk pemetaan segmen pengguna dan roadmap pengembangan, supaya pelaksanaannya berkelanjutan,” ujarnya.

Dari sisi keamanan, Chief Product Officer PT IOTA Kreatif Media, Gunawan Wibisono, memastikan bahwa pihaknya menerapkan standar ketat dalam pengelolaan konten anak.

Proses kurasi dilakukan secara berlapis sejak tahap produksi hingga distribusi.

Ia menambahkan, platform juga dilengkapi fitur kontrol orang tua guna memastikan akses anak tetap terpantau dan sesuai usia.

Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam menghadirkan ruang digital yang aman sekaligus edukatif.

Kolaborasi ini sejalan dengan visi Kementerian Ekonomi Kreatif untuk memperkuat sektor ekonomi kreatif digital sebagai mesin pertumbuhan baru (the new engine of growth).

Melalui sinergi lintas sektor, penguatan IP lokal, serta pengembangan subsektor seperti gim, aplikasi digital, konten interaktif, dan edutainment berbasis budaya, pemerintah berharap lahir ekosistem yang tidak hanya inovatif, tetapi juga aman, mendidik, dan kompetitif.

Upaya ini sekaligus menjadi refleksi bahwa transformasi digital di sektor anak tidak cukup hanya menghadirkan teknologi.

Lebih dari itu, diperlukan fondasi budaya, tata kelola yang kuat, dan strategi bisnis yang berkelanjutan agar IP lokal benar-benar menjadi tuan rumah di negeri sendiri.***